Brian Acton, ahli komputer lulusan Stanford University,
pernah bekerja di Apple dan Adobe. Antara tahun 1996 dan 2007 ia bekerja di
Yahoo dan jabatan terakhirnya adalah vice president of engineering. Dengan
kepakaran dan pengalaman semacam itu rasanya akan mudah bagi Acton untuk
melamar ke perusahaan manapun yang bergerak di bidangIT. Tapi kenyataannya
tidak begitu. Pada pertengahan 2009, ia melamar untuk bergabung dengan
Facebook, tapi lamarannya ini ditolak. Kabarnya ia juga melamar dan mengalami
penolakan oleh Twitter.
Bagi sebagian orang, penolakan semacam itu mungkin merupakan
hal yang menyakitkan dan menyebabkan hilangnya semangat. Tapi manusia sering
lupa bahwa tertutupnya sebuah pintu bagi mereka mungkin bermakna adanya pintu
lain yang terbukan dan bisa membawanya ke tempat yag lebih baik. Ini pula yang
rupanya dialami oleh Acton.
Setelah kejadian itu, ia tampaknya tidak menjadi 'down'.
Setelah ditolak Facebook, ia menuliskan hal itu di twitternya dan menutupnya
dengan kata-kata 'looking forward to life's next adventure'.
Tak lama setelah itu, Acton dan seorang kawannya, Jan Koum,
membangun aplikasi Whatsapp. Aplikasi ini ternyata tumbuh dengan pesat dan
digunakan oleh banyak pengguna, termasuk di Indonesia. Kini pengguna Whatsapp
telah mencapai 430 juta pengguna aktif dan setiap harinya aplikasi ini melayani
50 miliar pesan setiap harinya. Whatsapp telah mengalahkan penggunaan sms di
banyak negara.
Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa Facebook membeli
Whatsapp dengan harga yang sangat fantastis, yaitu senilai 19 miliar dolar AS
atau sekitar 223 triliun rupiah. Dari nilai itu, 3 miliar dolar diberikan dalam
bentuk saham kepada Acton dan beberapa orang lainnya di Whatsapp. Acton sendiri
kini direkrut untuk bergabung dengan Facebook.
Kisah yang menarik bukan. Lima tahun sebelumnya Brian Acton
ditolak oleh Facebook. Namun kini ia 'dibeli' dengan harga yang sangat tinggi
oleh perusahaan yang pernah menolaknya itu. Kalau pada waktu itu ia diterima
oleh Facebook, kita tidak tahun apakah aplikasi Whatsapp akan terlahir, atau
apakah ia akan berkembang seperti yang kita ketahui sekarang.
Takdir memang memiliki rahasianya sendiri dalam mengarahkan
hidup seseorang. Jadi jangan marah terhadap takdir yang tidak disukai. Sikapi
saja dengan positif dan teruskan perjuangan hidupmu. Insya Allah ada banyak
kebaikan yang mungkin menanti di hadapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar